tanpa mengurangi rasa hormat, aku ingin mengucapkan “terimakasih” kepada hati yang pernah berpaut di dalam hidupku, meskipun menjadi cerita usang.
Aku telah membiarkan rasa ini mengalir sebagaimana seharusnya. Tidak ingin mengingat ujung pangkal percikan-percikan bahagia yang dulu pernah ada, ya tentu saja. Namun ada kalanya terlintas juga sebagai ingatan saja.
Bicara tentang perasaan, nnaluriku seolah-oleh bergerak diluar kendaliku, lalu melahirkan cemas yang tak mampu ditebak-tebak, itu terjadi padaku! Entalah, ini sindrom apa? Kadang kemampuan berfikir serasa lumpuh, “aku lupa mana yang nyata dan mana yang semu”.
Setidaknya begitulah hematku tentang hidupku sendiri, yang aku jalani saat ini, berjalan penuh dengan warna-warni keindahan. Eh tunggu dulu, aku sengaja mengatakan hitam-putih perjalanan hidupku sebagai suatu yang indah, meskipun sesungguhnya itu aku paksa. Sejujurnya aku sudah tidak memikirkan takaran indah atau tidak itu sampai dimana, pendapat kita pasti berbeda.
Ahhh sudahlah, bukankah yang dilebih-lebihkan itu tidak baik?. Kita tetap begini-begini saja bukan? Kamu tahu kenapa? Karena apa yang terjadi, apa yang kita rasa, hanya kesemuan.
Kadang terkesan seperti sinetron. Bersembunyi dari yang mencari, mengejar pada yang terus berlari, menguntai kusut tak berbentuk. Berharap adanya pertemun walau berbeda arah. mungkinkah?, tapi kabut prasangka telah menghalangi kita. Akhirnya berpura-pura bahwa rasa tidak pernah ada.
Aku teringat si buas satu ini,ya dia, waktu. Telah memangsa semuanya, kisah-kasih kini menjadi cerita usang. Ada perasaan sayang untuk melupakan kenangan-kenangan yang pernah terjalin, tapi sudahlah. Karena itu bukan haluanku. Aku tak ingin terikat apalagi diikat.
biarkan menjadi ladang memori, yang kadang-kadang akan terbuka dengan sendirinya. kamu tenang saja, ia tak pernah luput, tak kan aku biarkan. Namun, tidak juga akan aku hadirkan. Biarkan itu menjadi ilusi kita yang pernah menyemai kebagaian.
Jika kita pernah mendengarkan kata mengabaikan, aku rasa ini yang telah kita jalani, entah secara sadar atau tidak. Kelak aku tidak berharap adanya penyesalan yang menuntut kita pada kepasrahan, dan lebih-lebih pada fase penyerahan. Aku harap kita bisa menerjemahkan suatu bahasa yang sama. "Segala sesuatu yang terjadi sudah punya argumen untuk terjadi"
NB: gak usah sokkk sibukkkk yahhh :)
0 komentar:
Posting Komentar